Rabu, 26 Februari 2014

MANUSIA SEBAGAI PELAKU UTAMA BAGI PERUBAHAN ALAM

Tindakan Manusia dalam Memperlakukan Alam

Pembahasan
Apakah kita pernah merenungi kembali tentang keberadaan kita saat ini? Kita sebagai manusia hidup di atas Bumi mulai dari lahir, kecil, beranjak dewasa, sampai kita meninggal. Ketika kita merenungi betapa besarnya kahidupa yang didapatkan dari bumi, maka kita akan selalu merasa bahwa betapa besarnya hutang manusia terhadap Bumi. Namun hal itu nampaknya tidak menjadi bahan renungan bagi kita, tetapi justru manusia hanya mengikuti egonya yang hanya menganggap alam sebagai sebuah objek yang siap pakai, dan hanya bisa dieksploitasi kapan saja tampa memberikan kontribusi yang mungkin bisa terus menjaga kestabilan alam agar tetap bisa menadi pengerak kehidupan di muka bumi ini.
Masalah ekologi sudah seharusnya diberikan perhatian yang serius mengingat berbagai kerusakan terhadapnya sudah mencapai tingkat yang begitu mengkhawatirkan. Dari tahun ke tahun kerusakan dan kekerasan terhadap ekologi bukannya menurun, malah semakin meningkat secara drastis. Kebakaran, penebangan hutan, penambangan dan pabrik kimia, pencemaran air, polusi udara, dan masih banyak yang lainnya, mungkin merupakan fenomena yang umum terjadi di Indonesia.
Tindakan-tindakan manusia terhadapa alam yang hampir tak terkendalikan inilah yang menjadi pemicu utama terhadap peristiwa-peristiwa alam di belahan dunia ini yang akhirnya juga mengancam kelangsungan hidup alam dan manusia itu sendiri, misalkan semakin besarnya tingkat terjadinya bencana alam seperti tanah longsor banjir, kekeringan,yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, yang sering menelan korban jiwa yang cukup banyak. Masalah inilah yang terus menjadi persoalan besar di dunia ini termasuk di Indonesia. Jika di tanya factor dari semua ini jawabanya bisa bervariasi;
Pertama, pemahaman manusia terhadap alam dan lingkungan adalah keliru. Anggapan bahwa alam beserta isinya diciptakan untuk manusia, dan manusia sebagai pusat penciptaan hampir didukung oleh berbagai agama di dunia dengan berbagai variannya. Misalnya, antroposentrisme (paham yang menganggap manusia sebagai pusat dan puncak segala ciptaan, paham inilah di pakai pakai sebagai legitimasi teologis atas pelimpahan wewenang dari Tuhan kepada manusia untuk menundukkan dan mengeksploitasi alam secara semena-mena demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kedua, perilaku negatif manusia yang memiliki kecenderungan untuk mengeksploitasi alam beserta isinya demi kepentingan dirinya dengan menggunakan media sains dan teknologi tanpa mempedulikan hak-hak alam. dalam diri manusia terdapat kecenderungan dan keinginan untuk berkuasa dan mendominasi (will to power), tidak hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam. Persoalan lingkungan pada dasarnya merupakan persoalan moral sehingga penanganannya pun harus melibatkan pertama-tama, perubahan paradigma terhadap alam dan lingkungan, kemudian melakukan tindakan afirmatif untuk mengembangkan sikap bersahabat dan berbuat baik kepada alam
Pertanyaan di atas juga ini bisa didasarkan atas kondisi ‘ekonomi’ dan ‘kepentingan’ manusia. Kemungkinan jawaban yang akan di lontarkan beberapa orang adalah, bahwa karena desakan ekonomi yang semakin mengancam kehidupanya, sehingga pilihan yang di ambil adalah misalkan memanfaatkan alam dengan melakukan pembalaka liar untuk bisa menghasilkan uang, dan sering juga melakukan pembakaran hutan untuk membuka lahan pertanian seperti berkebun, untuk tetap bisa menghasilkan pangan, untuk tetap bertahan hidup. Dan jawaban yang kedua karena kepentingan, hal ini penulis lebih ke pengunaan tehknologi seperti pembangunan pabrik di tengah pemukiman yang populasi penduduknya padat yang mungkin menumbulkan polusi yang akhirnya bisa mengancam kesehatan, dan juga pencemaran lingkungan seperti limbah dari pabrik yang berlebihan, karena hanya ingin memperoleh keuntungan perusahaanya, walaupun sangat mengancam kehidupan mahluk hidup.
Paradigma, Antroposentrisme
            Di dalam lingkungan hidup, di prioritaskan campur tangan manusia  terhadap tatanan ekosistem. Perlu diketahui bahwa lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan, ruang dengan semua benda, daya, keadaan,  mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menetukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan mahluk hidup lainya.
Manusia di dalam alam menyatakan, bahwa bagi manusia alam merupakan suatu “barang jadi” yang tinggal diterimah saja oleh manusia sebagai barang jadi, alam adalah alam yang bersifat tertata sebagai ciptaan khalik. Dilihat dari posisi dalam alam, manusia adalh posisi yang teranyam di dalam sistem tatawi. Itu berarti, alam yang tatawi, adalah gelanggang bagi manusia untuk bereksistensi, untuk meerealisasikan eksistensinya. Keteranyaman manusia dalam arti yang demikian itu membawa konsekuensi sekalipun mempunyai kebebasan untuk enciptakan kehidupan, di dalam menciptakan kehidupan manusia tertuntut untuk menghormati ketatawian alam. Namun dengan bersandar dengan pandangan ini yang lebih ke pemahaman antroposentris, justru membentuk ke serakahan manusia dalam memanfaatkan alam.
            Dalam hubunganya dengan paham antroposentrisme, sifat manusia semakin terdorong dalam memberikan sentuhan yang memikat bagi keberlangsungan alam, di mana dalam paham ini mengngap bahwa manusia sebagai pusat dari alam. Paham  ini semkin berkembang dipelosok dunia, dan dipraktekkan berbagai macam komunitas, baik komunitas petani, sektor ekonomi, industri dan yang lainya semuanya memberikan efek yang tak sepantasnya di terimah oleh alam. Ironisnya dalam beberapa dekade terakhir ini bisa kita amati berbagai macam fenomena alam yang terjadi, seperti banjir, semakin panasnya suhu undara, pencemaran lingkungan, tetapi seolah-olah manusi sebagai pelaku dalam merespon alam dengan berbagai tindakan, mulai dari tindakan  yang tak bertanggung jawab, seperti pembalakan liar pembangunan yang tidak tertata rapi, sepertinya menggambarkan tidak terjadi apa-apa. Buktinya ditengah ancaman-ancaman keganasan alam, manusia masi saja tak peduli dan terus melakukan tindakan yang tak bertanggung jawab terhadap alam.
            Posisi manusi di atas bumi adalah merupakan penyebab utama terjadinya berbagai perubahan alam. Dalam sudut pandang filafat juga dikatakan, bahwa manusia satu-satunya dutuntut bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan hidup di mana ia berada di dalamnya, karena manusia merupakan satu-satunya mahluk hidup yang diberi kebebasan untuk menguasai, mengelolah dan memanfaatkan alam dalam mewujudkan kebebsan menciptakan kehidupanya. Untuk itu manusia juga dikaruniai akal budi sehingga manusia dapat mewujudkan posisinya di atas alam, di samping harus mengingat bahwa manusia juga tetap mempunyai posisi terikat alam karena manusia tak dapat hidup mandiri tampa alam yang merupakan tempat dan sumber perlengkapan dalam menciptakan kehidupanya
Manusia dalam Hubunganya dengan Alam
            Dalam dasar-dasar ekologi yang digunakan sebagai sentral antara hubungan timbal balik manusia dengan alam, yang merupakan konsep dasarnya adalah, “ di mana pun manusia berada tidak akan bisa hidup manidiri tentunya ia kan selalu membutuhkan interaksi dengan mahluk hidup lainya yang ada di bumi”  karena itu sebagai manusia yang bertanggung jawab, di dalam mewujudkan kebebasan untuk vmenciptakan kehidupanya maka perlu memperhatikan dan memperdulikan tatanan alam.
            Dalam berinteraksi dengan alam manusia dengan segala tindakanya dapat mewujudkan berbagai pengaruh terhada alam, yang secara garis besar dikategorikan dalam tiga hal
1.      Merusak alam (deterioratif)
2.      Melestarikan alam
3.      Memperbaiki alam
Sebagai manusia yang diberikan kebebesan untuk menciptakan kehidupanya secara bertanggung jawab maka arah yang hendak dicapai adalah memperbaiki alam agar alam selalu mampu menopang kehidupan manusia. Segala perbuatan manusia hendaknya memberi makna pada alam sehingga alam lebih bermakna bagi kehidupan manusia.
            Keadaaan planet bumi yang merupakan tempat tinggal manusia, yang saat ini sedang memburuk; telah menjadi pusat perhatian dunia.  Jika kita sring mengamati siaran TV berita koran radio, selalu saja menyajikan berita tentang tekanan yang berkenan dengan lingkunga. Baik itu tentang  permasalahan  pangan, energi, kemingkinan terjadi pemanasan global, penipisan lapisan ozon, ledakan penduduk, banjir, kerusakan hutan,  erosi plasma dan sebagainya. Kalau manusia  menempuh jalan yang bersufat deterioratif maka keadaan itu boleh dikatakan sangat menggelisakan. Sudah seharusnya manusia membenahi perilakunya mulai sekarang.          
            Relasi eksistensial manusia dengan alam yang demikian itu menempatkan manusia di dalam keterikatan pada alam yang  tak terhindar. Dan dengan mendasarkan diri pada pengertian bahwa di dalam keterkaitan itu manusia harus mengelolah alam, kita dapat menyebut situasi eksistensi terhadap alam itu dengan istilah teksnis situasi eksistensi. Dari sini kita mengetahui bahwa pada manusia menciptakan dan mengelolah alam dan mengunakan alam. Seluruh usaha manusia untuk menciptakan dan menjalankan kehidupanya dengan menguasai dan mengelolah dan menggunakan alam itu dapat dengan istilah teknis, kita sebut “membudaya”. Dari sejarah manusia mungkin kita sudah mengetahui bahwa sejarah pembudayaan manusia berjalan melalui proses perkembangan maju, yang pertama dalam hal kesadaran manusia mengenai posisi dirinya bahwa dia di atas alam  (Transenden terhadap alam) dan harus menguasai, dan mengelolah alam, kedua. Penguasaan , pengelolaan dan penggunaan alam oleh manusia, ketiga, penciptaan kehidupan, dengan menekankan perkembangan atau kemajuan pengelolaan alam oleh manusia memang kita dapat menyebut proses itu kulturalisasi.
            Memang pada satu segi alam bagi manusia adalah barang jadi yang tatawi yang manusia tinggal terimah. Tetapi ketatawianwian alam itu tidak membuat alam menjadi sesuatu yang “statis” yang tak terubahkan oleh manusia, sebab pada segi yang lain, manusia adalah di atas alam menguasai alam, berusaha mengelolah alam untuk menopang kehidupanya. Sebagai sumber perlengkapan kehidupan manusia, alam justru menuntut manusia untuk menguasainya, dan mengunakanya, tetapi manusia juga harus memanusiawikan alam, dalam arti mengaktualisasikan potensi manusia, maka dengan demikian alam akan memberikan makna yang berartiv bagi kehidupan mausia, dan ctetap menopang semua mahluk hidup yang ada di atas muka bumi.

Pemanasan global

Penyebab pemanasan global


Abstraksi tentang penyebab-penyebab dan fakta-fakta pemanasan global

Dalam waktu belakangan ini, dunia telah menyaksikan pemanasan global, perubahan iklim dan bencana-bencana alam dengan proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut penelitian spiritual, penyebab utama dari pemanasan global adalah proses siklus yang terjadi di alam semesta dari waktu ke waktu. Efek-efek dari pemanasan global yang sedang kita saksikan sekarang ini hanyalah awal dari permulaan fase destruktif yang akan meningkat intensitasnya dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan. Fase destruktif dari suatu siklus dapat diperburuk oleh perbuatan buruk manusia terhadap alam. Perbuatan buruk yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil dari berkurangnya kesadaran spiritual umat manusia dan akibatnya di mana ketidakberdayaan manusia untuk memperoleh perlindungan terhadap pengaruh dari energi-energi negatif. Praktik spiritual merupakan satu-satunya jalan untuk benar-benar mentranformasikan pikiran kita yang tercemar secara spiritual ke pikiran yang lebih murni.
Untuk memahami artikel ini, mohon untuk membaca:
  • Sattva, Raja dan Tama, ketiga komponen dasar non-fisik dari Alam Semesta
  • Kelima Unsur Kosmik Absolut
  • Penelitian tentang umur Alam Semesta dan siklus-siklusnya
 

1. Meningkatnya intensitas dari bencana-bencana alam

Selama satu dekade terakhir, kita telah melihat suatu peningkatan intensitas dari bencana alam di seluruh dunia. Melalui media masa, dan bagi sebagian dari kita, melalui pengalaman langsung, kita telah menyaksikan kekuatan alam yang luar biasa. Belum lama ini, kita telah mengalami bencana alam yang diciptakan oleh tsunami-tsunami di Asia dan Jepang, gempa bumi di Pakistan, Haiti dan China, serta badai Katrina dan lainnya di Amerika Utara dan Tengah. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menyebabkan kerusakan dan kehilangan jumlah jiwa sangat besar yang membuat terpatri dalam pikiran kita, karena besarnya skala dari bencana tersebu.
Beberapa fakta-fakta tentang pemanasan global tersebut, tersedia melalui statistik di Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana, dan Pusat Riset Epidemiologi Bencana, anak perusahaan dari PBB. Badan-badan tersebut memperlihatkan bahwa telah terjadinya peningkatan tren dalam bencana alam, terutama selama dua dekade terakhir ini.
Global warming effects - increase in natural disasters
Lembaga ilmiah paling bergengsi di dunia juga setuju bahwa Bumi menjadi semakin hangat. IPCC, sebuah panel ilmiah PBB untuk perubahan iklim, menyatakan bahwa di tahun 2007 telah terjadi kenaikan sekitar tiga-perempat derajat Celcius pada suhu di Bumi selama satu abad terakhir, di mana kebanyakan dari efek pemanasan global tersebut terjadi selama beberapa dekade terakhir.
Beberapa akademi-akademi ilmiah nasional mengklaim bahwa aktivitas manusialah yang telah memainkan peranan utama dalam menyebabkan pemanasan global selama beberapa dekade terakhir. Ilmuwan-ilmuwan modern mengatakan hal ini terjadi karena setiap tahunnya, aktivitas manusia menyebabkan milyaran ton gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer.
Tetapi, apakah yang sebenarnya menyebabkan pemanasan global? Mengapa bencana alam meningkat intensitasnya? Dalam hal apakah manusia mempengaruhi perubahan iklim? Apakah gas rumah kaca merupakan faktor penyumbang utama terhadap pemanasan global? Kami melakukan penelitian spiritual untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari perubahan iklim dan peningkatan intensitas dari bencana alam.

2. Apa yang menyebabkan pemanasan global? Akar penyebab dari pemanasan global yang memacu bencana-bencana alam dan peningkatan intensitasnya.

Penelitian spiritual SSRF (dilakukan melalui indera keenam yang mendalam) mengambil pendekatan menyeluruh/ holistic dimana dengan semua ketiga dimensi (yaitu fisik, psikologis dan spiritual) dianalisa untuk memahami penyebab utama dari perubahan iklim dan meningkatnya intensitas serta frekuensi dari bencana alam.
Causes of global warming
Bagian berikut ini menjelaskan penyebab-penyebab pemanasan global, bencana alam dan perubahan iklim dari perspektif holistik/ menyeluruh tersebut di atas.

2.1 Penyebab dasar dari pemanasan global dan bencana alam – Perubahan siklus: 30% (Alasan 1)

Banyak ahli geografi berpendapat bahwa peningkatan intensitas dari semua bencana alam dan suhu di Bumi hanyalah bagian dari siklus rutin pada planet kita. Mereka mengatakan bahwa perubahan-perubahan siklus serupa di masa lalu telah membawa kita ke Zaman Es dan juga membawa kita keluar dari Zaman tersebut. Melalui penelitian spiritual, kami telah menemukan bahwa perubahan-perubahan siklus tersebut bertanggung jawab dengan porsi 30% dari akar penyebab keseluruhan pemanasan global dan bencana alam yang kita saksikan di hari ini (2011), kenyatannya bahwa adalah penyebab dasarnya.
Ilmu pengetahuan spiritual bergantung pada hukum spiritual yang universal dan abadi untuk menjelaskan perubahan-perubahan siklus yang merupakan penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim. Di sini kami akan menjelaskan mengapa perubahan-perubahan siklus terjadi di Bumi dari sudut pandang ilmu pengetahuan spiritual.
Hukum alam menyatakan bahwa apapun yang telah diciptakan akan dipelihara dan dihancurkan/ dileburkan pada akhirnya. Ini merupakan hukum dari Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan. Misalnya, pegunungan Himalaya telah diciptakan, kemudian akan dipelihara dan akan dihancurkan pada akhirnya. Oleh sebab itu, setiap kali ada sesuatu yang diciptakan, setelah periode dipelihara, dapat diharapkan bahwa pada suatu saat akan dihancurkan. Hanya Sang Pencipta, yaitu, Tuhan YME, tetap tenang dan tidak berubah.
Kehancuran datang dalam berbagai bentuk, bencana alam adalah salah satu bentuknya. Manusia juga memfasilitasi proses dari siklus penghancuran ini melalui perilakunya yang kadang-kadang berujung pada perang dan kehancuran, yang mana bagian ini mengambil porsi 70% dari sisanya.
Cyclical changes during the four eras
Rentang waktu alam semesta dibagi ke dalam empat era. Di Era pertama, yaitu, Satyayuga, di mana komponen dasar halus sattva merupakan yang dominan. Ketika terdapat dominasi sattva yang lebih tinggi dalam lingkungan, perubahan siklusnya menjadi lebih lembut/ ringan. Sejalan berlanjutnya era-era tersebut, terdapat pengurangan dalam komponen sattva; sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan siklus dengan amplitude yang lebih tinggi. Di Kaliyug, di mana komponen dasar non-fisik yang dominan adalah raja, perubahan-perubahan dalam penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran menjadi cukup dramatis. Kehancuran umumnya disebabkan oleh peningkatan bencana alam, penyakit dan peperangan. Kita berada di tengan fase terendah dari penghancuran di salah satu siklus dalam Kaliyug. Setiap siklus mini umumnya berlangsung selama 1000 tahun.

Selasa, 25 Februari 2014

MACAM-MACAM EKOSISTEM BESERTA CIRI-CIRINYA

MACAM-MACAM EKOSISTEM BESERTA CIRI-CIRINYA

Macam Ekosistem

Di bumi ada bermacam-macam ekosistem, yaitu ekosistem alam dan buatan. Secara garis besar ekosistem alam dibedakan men­jadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.
1. Ekosistem Darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Ber­dasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat yaitu sebagai berikut.

Pengertian EKOSISTEM

Pengertian EKOSISTEM | Sistem Ekologi


Pengertian ekosistem pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A.G. Tansley pada tahun 1935, walaupun konsep itu bukan merupakan konsep yang baru. Sebelum akhir tahun 1800-an, pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan dengan ekosistem mulai terbit cukup menarik dalam literatur-literatur ekologi di Amerika, Eropa, dan Rusia (Odum, 1993).

Pencemaran lingkungan

. pencemaran lingkungan hidupPencemaran lingkungan hidup harus  menjadi perhatian yang serius di era saat ini. Meningkatnya kegiatan industri seperti pertambangan telah banyak mengganggu ekosistem lingkungan hidup dengan kegiatan penebangan pohon dan kebisingan alat-alat pertambangan yang digunakan
Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi.
Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Dari definisi diatas tersirat bahwa makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Dan, manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya dalam mengkreasi dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya.
Di alam terdapat berbagai sumber daya alam. yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda, dimana dapat digolongkan atas :

Pengertian Polusi dan Polutan


1.    Pengertian Polusi

Pengertian Polusi yaitu masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).

Macam - macam polusi

Telah kita ketahui bersama bahwa lingkungan hidup kita semakin hari semakin terancam kelestariannya. Bukan hanya dari efek global warming tetapi juga dari berbagai polusi di sekitar kita yang sering kita jumpai. Polusi sangat mengganggu dan bahkan bisa merusak ekosistem yang ada di suatu lingkungan.

Polusi itu banyak macamnya dan sangat berbahaya bagi lingkungan terutama bagi orang di sekitarnya. Beberapa macam polusi akan dijelaskan berikut ini diantaranya :